Berburu Sunrise Di Pinus Asri Dlingo, Bantul

by - Maret 31, 2019

Malam itu langit Yogyakarta digelayuti awan hitam. Dan hati ini pun ikut digelayuti rasa khawatir kalau-kalau besok cuaca tidak akan bersahabat. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dan belum ada tanda-tanda aku akan segera tidur, sama sekali tidak ada rasa kantuk. Sedangkan teman-teman yang lain sudah terlihat tidur dengan nyenyak sekali. “duhhh, besok harus berangkat jam tiga pagi, tapi jam segini belum tidur.” Aku menggumam sendiri dalam hati. 

Besok aku dan teman-teman (berenam) akan berangkat memenuhi undangan pernikahan salah satu teman di Gunungkidul. Tetapi rencananya kami akan berburu sunrise terlebih dahulu di Pinus Asri, Bantul. Jadi sebelum matahari terbit kami sudah harus ada di sana. 

 **** 


Adzan subuh baru saja selesai berkumandang saat kami sampai di parkiran Pinus Asri, Bantul. Dari kota Yogyakarta sampai Bantul hanya dibutuhkan waktu kurang dari satu jam jika lalu lintas sedang tidak padat. Dan pagi itu, pukul 04.30an kami baru sampai. Bukan karena lalu lintas padat, tapi kami yang terlambat bangun. Rencana jam 03.00 sudah start tapi kenyataannya jam 03.00 kami baru saja bangun. 

Sesampainya di Pinus Asri kami langsung menuju mushola yang terletak persis di depan parkiran untuk sholat subuh. Mushola di sini lumayan luas, tanpa tembok dan seluruh bangunan hingga lantainya terbuat dari kayu. Terlihat hangat dan sangat bersih. Selesai sholat subuh kami bergegas masuk ke dalam hutan pinus. Dari parkiran kami harus berjalan kaki membelah hutan pinus untuk sampai di tepi hutan tempat kita bisa bisa menyaksikan matahari terbit. 

Gelap gulita. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia selain kami. Tidak ada lampu sehingga kami harus menyalakan senter yang ada di smartphone kami masing-masing untuk penerangan jalan. Kami berjalan berurutan, dan aku yang notabene tidak bisa jalan dengan cepat berada di posisi paling belakang. Ini benar-benar berburu sunrise namanya. Teman-teman di depanku berjalan dengan cepat, bahkan sepertinya mereka setengah berlari. 

Saat itu muncul rasa takut kalau-kalau ada Serigala hutan menerkam kami satu-persatu dimulai dari yang paling belakang. Hahh, korban thriller banget ini. Padahal hutan pinus yang kami masuki cukup aman. 😂😂
Jalan yang lurus belum tentu jalan yang benar. Ingat ituu. 😂😂
Langit sudah mulai terlihat, tandanya matahari sebentar lagi akan naik. Membuat kami lebih mempercepat langkah. Setelah berjalan sekitar 10 menit dari loket masuk, akhirnya kami sampai di tepian hutan. Kami yang tadinya mengira belum ada orang selain kami, ternyata salah. Sampai di tepian hutan sudah ada dua orang laki-laki. Yang satu sedang berpose cool bak model profesional, dan yang satunya jongkok dengan memegang kamera yang diarahkannya pada temannya yang sedang berpose itu. 

“Waaahh, seperti di atas awan.” Lelahku karena berjalan setengah berlari seketika hilang, terbayarkan oleh pemandangan yang aku dapatkan pagi itu. Awan putih menyelimuti hampir seluruh pepohonan yang ada di bawah. Benar-benar seperti sedang di atas awan. Alhamdulillaah, masih bisa menyaksikan matahari terbit nanti. Sambil menunggu matahari terbit kami menyibukkan diri dengan mengambil foto di beberapa tempat seperti gardu pandang,  yang memang disediakan pengelola untuk pengunjung bernarsis ria. 


Pengunjung mulai berdatangan. Tempat yang kami kunjungi pun mulai ramai. Tidak lama setelah menyaksikan indahnya matahari terbit, kami pun memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Gunungkidul. Saat perjalanan dari tepi hutan menuju tempat parkir ada yang membuat kami tercengang. Ternyata saat memasuki hutan ketika masih gelap tadi kami mengambil jalur yang salah. Bukan jalur yang memang disediakan oleh pengelola. Dan setelah dilihat-lihat, jalur yang kami lewati cukup membuat kami menggeleng-gelengkan kepala. 

"Gila, tadi kita lewat situ. pantesan jalannya kok naik turun dan agak becek." Celetuk salah satu teman ketika tahu kalau tadi kami salah jalan. Benar-benar ya, bukan main pengalaman yang kami dapatkan pagi itu.
Tiket masuk Pinus Asri ini hanya 3 ribu rupiah perorang, dan 5 ribu rupiah untuk parkir mobil.

Selain ke Pinus Asri, kalian juga bisa mengunjungi wisata di dekatnya seperti Puncak Becici, Pinus Pengger atau Hutan Pinus Mangunan. 

Tertarik untuk berburu sunrise di Pinus Asri? 

You May Also Like

5 komentar

  1. Mbayangkan pagi2, yang lain pada jalan kencang, deweke pelan ginak-ginuukk. Ugh...gemesss jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus ginak-ginuk banget nih bahasanya? hmmmm

      Hapus
  2. Haduuhh sunrisenyaaaaa... ciamik tenan! Pengen ke sana kan jadinya *padahal cuman buat updet profpic IG :v*

    BalasHapus
    Balasan
    1. update profpic IG, WA, Twitter, FB. hahahha
      tapi beneran emang ciamik banget sunrisenya kak

      Hapus

Blogger Perempuan