Festival Jerami 2017

by - Oktober 15, 2017

Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah jerami? Nampak lusuh, dan sama sekali ngga menarik. Namun ketika tahu jerami diangkat menjadi tema sebuah festival, dan event ini didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarnegara dan Rumah Kreatif Indonesia, aku mulai penasaran. Akan dibuat seperti apa jerami? Di tangan para kreator yang ahli dalam bidangnya, pasti akan mendapat hasil yang menarik.

Sim salabiiiim, dan betul! Sesampainya di lokasi festival, yaitu jembatan baru arah Pucang-Jenggawur, jerami sudah disulap menjadi diorama-diorama yang unik dan menarik. 


Ranjang Dawet Ayu diaplikasikan sebagai pintu masuk...

Cuaca siang itu begitu panas, namun banyak pengunjung yang datang untuk menyaksikan beberapa acara di Festival Jerami. Melewati diorama ranjang dawet ayu yang dijadikan pintu masuk, pelan-pelan aku menepi ke kanan karena banyak pengunjung yang ingin berfoto di depan diorama ini. 

Alih-alih ingin berteduh di samping diorama rumah tradisional Papua, aku menangkap keceriaan anak-anak SD yang mengenakan seragam pramuka. Mereka diberi tugas oleh gurunya untuk menulis apa saja yang mereka lihat di sekitar lokasi festival. Kebayang dong, bagaimana hebohnya mereka mendata satu per satu apa yang dilihatnya.

Ngga hanya anak SD, anak SMA juga ngga kalah banyak yang datang ke festival ini. Mereka datang bukan untuk ikut berdesak-desakan, melainkan untu mensupport teman-temannya yang ikut fashion show.


PAMERAN DIORAMA JERAMI

Ada berapa jerami yang digunakan untuk event ini? Cukup satu truck? Atau, jerami atas satu hektare sawah? Ada yang bisa menabaknya? Hahaha.


Diorama ini masuk dalam sejarah Banjarnegara...

Tank kemerdekaan...

Dorama Burung...
Diorama Jerami yang dipamerkan di sini berjumlah 8 : diorama burung, alat militer, ikon wisata Banjarnegara, dan rumah tradisional. Betuknya sangat menarik. Apalagi diorama burung, lucuk. Banyak yang berfoto di depan diorama ini. Rasa-rasanya sayang banget kalau diorama itu sampai rusak atau "hangus", ya. Membuatnya kan udah pasti membutuhkan waktu lama.

MENGGAMBAR DI TENGAH SAWAH

"Maaf, minggir, Pak. Takut mengganggu konsentrasinya." Seorang lelaki gagah bertopi, mengenakan hijau dan berdasi pramuka, mengingatkan kepada para pengunjung yang berada di dalam area menggambar. Harusnya pengunjung ngga boleh masuk area menggambar. Sayangnya ngga ada himbauan tertulis.

Rapih banget...

Lima gadis kecil tengah serius menggambar di tengah sawah. Btw, ini di tengah sawahnya bukan beneran di tengah-tengah sawah, ya. Tepatnya di sekitar sawah, atau pinggir jalan, gitu.

Keringat bercucuran nampaknya tak jadi penghalang buat mereka untuk menyelesaikan karyanya. Beragam gambar yang mereka buat. Pun dengan warnanya, ngga ada yang menyamai. Selain lima anak yang sudah mulai menggambar, ada kelompok lain yang baru datang untuk mengikuti kegiatan ini. Yaitu anak-anak dari TK Pembina Pucang, dan anak-anak PAUD juga.

FASHION SHOW BARANG BEKAS

Ini nih, acara yang aku tungguu bangett! Biasaa, lagi-lagi aku penasaran. Kalau tadi penasaran dengan si jerami, kali ini penasaran dengan barang bekas yang dijadikan fashion. Hahaha. Aku mah orangnya mudah penasaran. 

Dan lihatlaaaah, baju yang mereka kenakan! 

Pakai koran aja cantik...

Lha ini, pakai karung aja anggun...
Para peserta fashion show barang bekas yang berjumlah 43 peserta, rata-rata menggunakan koran bekas dan kain goni. Ngga tahu kenapa, aku ngga dapat feelnya untuk barang bekas ini. Modifikasinya masih kurang gereget. Pun dengan barang bekas yang dijadikan fashion. Unsur bekasnya kurang kuat. Beruntung nih ya, modelnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng, lumayan adem meski acara ini digelar di depan panggung tanpa atap. Matahari begitu teriiiik, owh. Semoga ke depannya kreatifitas untuk fashion barang bekas makin meningkat, dan yang ikut juga makin banyak.

OVERALL...


Penyelenggaraan Festival Jerami 2017 tergolong sukses. Acara ini baru pertama kali dibuat, dan banyak pengunjung yang meramaikan dari pagi hingga malam. Habat, bukan? Tata dekorasi festival juga bagus. Tertata rapih, meski pemilihan lokasinya kurang luas. PR buat panitia ke depannya, nih.

Festival Jerami berlangsung satu hari penuh. Acara lain seperti pajang karya limbah, pentas budaya dan live musik, juga cukup banyak yang menikmatinya. Apakah festival ini bisa menjadi agenda tahunan? Tunggu saja 2018, ya. 😂


You May Also Like

0 komentar