Kereta Api Indonesia di Masa Mendatang

by - September 29, 2017

"Duuh...ini bukti pembayaran tiket dikasihkan siapa, ya? Kereta Malioboro Expres itu yang mana?"

Sesampainya Stasiun Yogyakarta, aku baru merasa bingung karena kurangnya pengetahuan dan informasi. Bukti pembayaran kereta sudah di tangan, tapi aku ngga tahu harus memberikannya kepada siapa. Pikiranku mulai ngga fokus, rasa percaya diri pun tiba-tiba menurun berganti dengan rasa was was karena takut ngga bisa sampai kota tujuan yaitu Malang. 🌄


Aku dan Pengalaman Pertama Naik Kereta Api

Tahun 2006, anak kampung yang tiap harinya hanya mencicipi angkutan kota, saat itu harus naik kereta api untuk suatu keperluan. What should I do? Handphone dalam genggamanku masih handphone jadul. Belum berupa smartphone atau ponsel pintar seperti sekarang yang bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi apapun lewat internet. Sementara, ini adalah kali pertama aku menginjakan kaki di stasiun. Apakah aku bisa sampai Malang? Tanyaku dalam hati.


Stasiun ini selalu ramai...

Hari mulai gelap, makin banyak orang berlalu-lalang di Stasiun. Alih-alih sambil menunggu kereta, aku berdiri di samping pintu masuk layaknya seorang satpam. Mengamati satu per satu orang yang datang dan berharap bisa mendapat informasi nantinya.


Selembar bukti pembayaran kereta yang dikeluarkan oleh PT. POS Indonesia masih aku pegang. Bukti ini aku dapat dari Bapak, beliau yang memesankan tiket kereta api di Kantor Pos. Aaaah...kenapa waktu itu aku ngga memesan sendiri saja, ya. Kan bisa sekalian tanya-tanya untuk sesuatu yang belum aku tahu. 👭

Akhirnya, kecetak jugaa...


"Kereta berangkat jam berapa, Mbak? Kok belum print out tiket? Tanya seorang perempuan yang berdiri di sebelahku. Aku pun menjelaskan tujuanku datang ke stasiun, berharap akan mendapat informasi yang beguna nantinya. Tapi ternyata Mbaknya juga ngga paham karena tiket kereta sudah dipersiapkan oleh temannya. Tak lama berkomunikasi, dia pun pamit karena keretanya hampir datang.

Terus, gimana nasibku?

Saat itu, aku seperti hilang akal. Takut, gugup, malu, rasa itu campur menjadi satu. Tiga puluh menit telah berlalu. Keberanianku untuk jalan dan bertanya-tanya sudah mulai terkumpul. Sampai akhirnya, pengamatan yang dari tadi aku lakukan membuahkan hasil. 

Ada beberapa komputer di area pembelian tiket. Aku melihat ada beberapa orang yang sepertinya senasib sepertiku. Sesuai jadwal, satu jam lagi kereta Malioboro Expres akan datang. Artinya, aku harus segera mencetak tiket. 🖨


Cekatan bangettt...🤗

"Gimana, Mbak? Ada yang bisa dibantu?"

Pak Harno, karyawan PT. KAI Indonesia yang saat itu sedang bertugas shift sore. Dia adalah orang pertama yang mengejek aku karena ngga bisa cetak tiket kereta. Dia juga ngga mau membantuku untuk input nomor ID ke dalam sistem. Jahat? Ngga. Karena beliau mendampingi, mengarahkan, sampai aku mendapatkan tiket dan kereta! 📄

"Kalau nanti aku bantu cetak, kamu ngga mandiri. Masih muda, lho."

Uhuk, masih muda tapi dodol banget, ya. Cuma cetak tiket kereta api saja ngga bisa. 🙊 Tapi kalian harus maklum karena ini pengalaman pertama aku naik kereta api. Selain itu, di kota kelahiranku, Banjarnegara, moda transportasi ini sudah lama berhenti beroperasi. Dulu, Banjarnegara pernah dilalui jalur kereta api yang beroperasi dari Stasiun Purwokerto sampai Stasiun Wonosobo. Dan sekarang, jalur kereta api pelan-pelan dimanfaatkan untuk membuat rumah toko. Belum ada tanda-tanda rel itu akan kembali hidup.


Kereta Api Menjadi Tranportasi Andalan

Kataku, aku termasuk orang beruntung karena pertama kali menginjakan kaki di stasiun aku merasa aman karena ngga menjumpai orang yang biasa dibilang calo transportasi seperti di terminal bus. Aku juga ngga melihat orang jahil atau mencurigakan. Keadaan seperti ini membuatku nyaman meski banyak orang. Terlebih beberapakali mendapati karyawan PT. KAI yang ramah. Kan jadi bahagia.👮

Kemanapun, Keretaa... ❤

Kebahagiaan tak hanya sampai pada pelayanan karena ternyata 
SDM mereka tergolong tinggi dalam kemampuan kerjasamanya. Meski usianya sudah kepala lima, seperti Pak Harno, tapi kinerjanya masih gesit.

Mulai dari sini, aku mengandalkan kereta api sebagai partner perjalanan ke luar kota. Aku jatuh hati dengan moda kereta api. Jika hendak ke luar kota dengan perjalanan yang cukup lama, aku lebih memilih ke Stasiun Purwokerto untuk naik kereta api. Dan pada kenyataannya, kereta api telah mengantarkanku ke beberapa destinasi wisata dengan lebih cepat. Saat ke Bromo, misalnya. Aku dapat menghemat beberapa jam perjalanan jika dibanding dengan transporasi darat lainnya.🚈🚉

Ngga hanya dari sisi efisien waktu, fasilitas toilet dalam gerbong pun menjadi salah satu alasanku memilih kereta api. Ini baru toilet dalam gerbong, ya. Adanya mushola, tempat makan, toilet, tempat charge, dan fasilitas umum penting lainnya yang ada di tiap stasiun menjadi pertimbanganku untuk menjadikan transportasi ini sebagai moda andalan.🚂 

Dulu free chargernya kayak gini...

Uuwh...lagi-lagi transpotasi andalan, ya. Ya memang begitu adanya. Aku, anak kampung, merasa kereta api begitu membantu tiap kali akan bepergian ke luar kota, termasuk traveling. Apalagi sekarang katanya di beberapa stasiun mulai dibuat tempat charge di tiap tempat tunggu. Masa kini colokan listrik memang begitu penting, ya. Aaaah...jadi makin cinta!

Kereta Api di Masa Mendatang

Betapa aku merasa beruntung (lagi) karena kereta api dapat mengantarkan aku sampai tempat tujuan dengan lebih cepat, tanpa macet, apalagi menimbulkan kemacetan. Aku bahagia karena ini. Bisa traveling dengan mudah tanpa harus pindah-pindah transportasi. Dan aku ingin hal ini bisa dirasakan juga oleh teman-teman yang akan ke Banjarnegara. Baik untuk sekadar mudik, atau bahkan traveling. 🏖

Seperti yang sudah aku ceritakan di atas, bahwa dulu, Banjarnegara pernah dilalui kereta api dengan jalur Purwokerto dan berhenti di Wonosobo.

Sampai sini lebih cepat...

Sekadar informasi, Banjarnegara dan Wonosobo memiliki destinasi wisata yang masuk KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yaitu Dieng. Bersama Borobudur, Karimunjawa dan Sangiran, promosi wisata untuk destinasi yang masuk KSPN terus digalakan. Makanya, semenjak PT. Kereta Api Wisata meluncurkan gerbong Kereta Wisata Prioritas, pada Jumat (4/8/2017), aku berharap rel-rel kereta api di Purbalingga-Banjarnegara-Wonosobo dapat dihidupkan kembali. Ya, dihidupkan kembali, atau menciptakan jalur baru untuk sampai Banjarnegara. 🚅

Candi Arjuna Dieng, Gunung Prau, Telaga Warna, Kawah Sikidang, Sunrise Bukit Sikunir, dan masih banyak obyek wisata lainnya di Dieng yang tiap hari ramai dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun luar kota. Sementara, mereka baru bisa melakukan perjalanan dengan kereta api hanya sampai Purwokerto atau Yogyakarta. Setelahnya, mereka harus berpindah dari satu transportasi ke transportasi lain untuk sampai Dieng. Memang, ada travel atau bisa carter mobil untuk lebih simpel. Namun harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk pilihan ini. 🚄🚄🚄

Kawasan Candi Dieng...
Aaah...jadi kebayang kalau nantinya ada kereta api rute baru, minimal Jakarta-Banjarnegara, wisatawan yang hendak traveling ke Dieng akan makin mudah dan hemat waktu. Ngga repot lagi untuk sewa mobil atau gonta-ganti transportasi umum untuk sampai Dieng. ⛰

Selain Dieng, ada Gunung Slamet di Purbalingga yang makin ramai Pendaki. Banyak juga wisata yang menarik di sana. Menghidupkan kembali rute yang sudah lama mati, bisa menjadi pilihan yang tepat. Bukan begitu, kawan? ❤ 

Harapanku ngga muluk-muluk, ngga harus menciptakan kereta api prioritas untuk jalur ini karena mungkin jatuhnya akan mahal. Memang, kereta wisata ini nantinya akan disetting khusus untuk menjelajah destinasi wisata, lengkap dengan paket-paketnya. Tapi jika biayanya lebih mahal dari tansportasi darat lainnya, bisa jadi kurang bermanfaat, atau hanya kalangan tertentu yang bisa menggunakannya. 🙆

Mau ganti jadwal pemberangkatan, musti ke sini dulu...huuft

Ini baru satu harapan untuk KAI di masa mendatang. Lanjut te
ntang reschedule, dan pembatalan tiket. Aku juga punya harapan untuk ini. Semoga ke depannya, pelanggan dapat mengatur ulang jadwal yang sebelumnya sudah dipesan atau bahkan melakukan pembatalan hanya lewat aplikasi tanpa harus datang ke stasiun terdekat.

Untuk fasilitas umum yang tergolong penting seperti toilet, mushola, dan tempat makan, ada baiknya di stasiun-stasiun kecil seperti Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah, juga diperhatikan. Sejauh ini, ada beberapa stasiun yang sepi dari tempat makan atau mini market yang menjual camilan. Sebenarnya PT. KAI bisa lho menyediakan jajan dan minuman di stasiun kecil. Dikelola sendiri, gitu. Bangunan boleh jadul, tapi fasilitas kekinian, dong.

Bangunan tempo doeloe...

Omong-omong untuk hospitality, tanportasi ini juara karena dapat memberi pelayanan maksimal untuk para penumpang yang tiba-tiba sakit di gerbong kereta. Seperti yang pernah diceritakan Tante saat melakukan perjalanan Jombong-Purwokerto. Ada penumpang yang mengalami pendaharan di hidungnya, tim kesehatan pun turun langsung gerak cepat. Turun tangan untuk menyelamatkan penumpang. Keren banget, ya. 👷

Btw, selamat 72 tahun PT. Kereta Api Indonesua. Semoga SDM dan pelayanannya makin menyenangkan. Semoga terus menjadi moda andalan, ya. Sekarang naik kereta kelas Ekonomi saja sudah nyaman, apalagi yang kereta prioritas, ya. Uuwwh...ditunggu gebrakan berikutnya. #AyoNaikKereta 🚞

You May Also Like

0 komentar